Wat Arun, Sungai Chao Praya and Grand Palace - Bangkok - Thailand
When I was enjoying the unforgettable rendezvous
Aku masih tetap sendiri, sendiri menyusuri koridor yang cukup luas dengan mengamati kendaraan yang tak pernah berhenti, menatap lampu merah dan menyudutkan pandanganku pada mobil mobil mewah itu.
aku pun dengan santai bercelana pendek, bertopi dengan membawa tas ransel berukuran medium
aku tersenyum sendiri menikmati kota bangkok ini.
memang cuaca yang sangat menyenangkan sambil menikmati makanan khas sini , patthai yang aku beli dari khaosan road.
aku mengamati semua gerak gerik orang, berusaha mencari arah untuk aku temukan wat arun yang kata banyak manusia mengaguminya.
tak lama aku menjumpai pucuk jalanan di tepi sungai yang menyejukkan.
memasukinya dan tiba hingga lantai atas wat arun itu. akupun melihat suasana kota yang indah sekali, lalu tak jelas mengapa aku memikirkan dia lagi. memikirkan akan awal aku bertemu dan akhirnya mengenalnya.
Hari itu adalah hari senin, dimana aku ada kelas tambahan karya tulis ilmiah, masih ingat sekali aku memakai seragam putih abu-abu, aku terduduk di depan mengharapkan akan pembebasan mataku untuk bertemu dengan sosok keindahannya, aku menunggu dia akan keluar dari ruang OSIS yang memang dia merupakan salah satu bagiannya.
lalu aku terkaget, dia datang dari belakang sudutku. dan memanggil lirih namaku seakan dia akan berusaha berlaku sopan di depanku. badanku pun tersihir, mataku pun kaku tak terpejam, sekujur tubuhku lemas lunglai, keringatku bercucuran panas dingin, kakiku terhantak lurus, dan tanganku telah lumpuh. aku tersihir total ya Allah, aku masih ingat di kelas berapa aku saat itu, aku ada lantai 1 sekolah dengan kelas disamping tangga, kelas itu adalah kelas XI IPS 1. aku berusaha tersenyum tapi aku menunduk malu. aku berusaha menimpali tapi suaraku pun tak keluar,
bisakah kau membayangkan yang terjadi saat itu ??
dia mengulurkan tanganya dan memperkenalkan dirinya.
akupun akhirnya menjawabnya dengan berusaha santai, walau sebenarnya aku tidak tau bagaimana berlaku santai.
Dia menceritakan prolognya dengan berpura pura telah mengenalku, telah lama memperhatikanku, telah lama tau siapa aku dan kualitas aku. dalam hati aku menjerit dengan berkata " ternyata dia juga tau aku Tuhan, Engkau memang menyampaikan surat surat kecil untuknya, lalu Tuhan bukankah ini hari yang memang Engkau persiapkan untukku"
maksud kedatangan dia sebenarnya hanya untuk mengajakku untuk menjadi misioner sekolah, akupun belum sempat menjawab dan ternyata bel berdering tanda aku harus memasuki kelas karya tulis ilmiah ini. di sepanjang kelas akupun tidak bisa berkonsentrasi , pikiranku melayang tenggelam dalam berhalusinasi akan apa yang sudah terjadi, berimajinasi akan kenyataan yang selama ini aku dambakan. lalu aku menatap ke jendela, aku merindukannya lagi, menginginkan tubuh dia yang biasanya ada di lapangan depan kelasku. namun sayangnya sosok dia tidak ada hari itu. aaahhhhh.
aku terbangun dalam lamunanku dan aku menyusuri sungai Chao Praya untuk menuju ke Grand Palace Bangkok Thailand itu .. hhm sungai yang ditempuh dengan perahu seharga 15 baht ini memberi angin segar yang menampar nampar kulitku yang sedikit kelelahan, aku sangat menikmatinya, sangat menikmatinya, disamping kanan kiriku pun sekarang ada teman, di depanku pun ada orang orang asing dan di belakangku ada para Biksu yang sangat banyak dijumpai di negara seribu pagoda ini.
aku pun turun dari tepian sungai dan memasuki pasar, lalu yang selalu menjadi ingatanku " akan aku bawakan apa dia?" dia yang teramat sempurna, dia yang mengagungkan komitmennya, dia yang menaruh perhatian besar pada dunia bisnis, iyah bener, dia yang amat aku dambakan.
akhirnya aku sampai di Grand Palace, aku menikmati keindahan yang sangat luar biasa, pahatan seni dan paduan warna yang memabukkan pandanganku akhirnya menyuruhku untuk duduk dan istirahat sejenak. lalu aku memikirka lagi cerita pertemuan pertama aku yang masih belum selesai.
Grand Palace - Bangkok - Thailand
Chao Praya River - Bangkok - Thailand
pertemuan pertama itu mengistilahkan kehadiran yang aku rindukan, aku rindukan dalam halusinasi tak terbayar. akhirnya setelah kelas itu selesai, kulangkahkan kakuku untuk bersiap pulang, lalu sayangnya aku tidak mengayuh sepeda tuaku itu, aku berjalan kaki menuju rumahku. aku pun sampai gerbang dan sudah menyeberang jalan, tak kusangka aku menemui dia lagi, aku menunduk dengan topiku seakan akan aku merasakan suhu yang kepanasan, dan aku pun berfikir dia tidak akan menyambarku dan menyapaku saat itu, ternyata aku salah, dia berhenti di depanku dengan seragam putih abu abu bersama temannya yang duduk di belakang sepedanya, dia menyapaku dan menanyakan akan ajakan dia pada dua jam yang lalu.
aku merasa terkasihi saat itu, merasa terberkahi dengan keagungan Tuhan
lalu aku dengan spontan menjawab "iya, aku bisa" dalam hati berkata "ini kesempatan, ini nikmat bukankah seharusnya aku bersyukur, sungguh tidak ada kata yang pantas untuk menolak"
lalu aku melanjutkan langkah kakiku menuju rumah, jika dihitung jarak sekolahku dengan rumah itu 2km,dan aku sangat menikmatinya saat itu, terik matahari yang menyengat kulitku pun tidak terasa, yang terasa hanyalah sejuknya momen itu, damainya kalbu saat itu. aku berjalan hingga akhirnya aku menjumpai pasar, lalu aku, di tepi depan aku berjalan ada sesosok orang yang selalu aku dambakan. dia masih saja membawa sepedanya dan kemudian memanggilku, dengan perkataan "ayoo aku antar pulang, aku ingin mengenalmu dan mengetahui rumahmu"
dalam hati selalu berkata Allahu Akbar Allahu Akbar.
ini memang sangat indah dan tidak akan pernah aku lupakan sampai maut nantinya yang akan menghilangkan daya pikirku.
di pelisiran kuil itu aku merasa sangat merindukan hari itu. indahnya hari itu Tuhan, indahnya pertemuan itu, indahnya saat dahaga yang kurasa akhirnya kau tetesi air surga yang menyegarkan, jika kalbu ini kering kerontang maka mengaguminya adalah sumber mata air yang amat aku inginkan. aku merindukan hari hari itu, aku sangat merindukan senyuman dia, merindukan suara lirih nan tegas dia, merindukan gaya bahasa menyejukkannya dia Tuhan dan aku merindukan semua tentang dia.

1 komentar:
pikiranku melayang tenggelam dalam berhalusinasi akan apa yang sudah terjadi, berimajinasi akan kenyataan yang selama ini aku dambakan. *I like this part
Posting Komentar