Siam Square Bangkok, Thailand
the past which couldn't be hold again
aku berdiri di bawah tiang jalanan, menunggu bis yang datang menghampiriku, lalu apa yang aku pikirkan?
aku telah memikirkan dia yang mengagumi patung marlion singapore, dia yang berimajinasi bahwa singapura akan menjadi negara kedua dia. aaah tidaaaaaakk, kenapa dia lagi ?
jika saat menunggu bis itu seperti menunggu cinta, kadang datang dengan kenyamanan, kadang juga bisa datang dengan keroyokan. dan aku paham Tuhan telah memberi jalannya dengan baik.
lalu kembali dalam benakku, Tuhan mengapa harus selalu dia? aku sudah berusaha mengikhlaskan hatiku.
BTS SIAM - BANGKOK - THAILAND
kejadian itu muncul pertama kalinya saat aku melihat murid sekolah menengah atas sedang menikmati es krim di pojokan bangku koridor halte
lalu aku teringat, saya pernah melewati masa masa itu. masa dimana aku sangat mengaguminya.
masa dimana aku hanya takluk akan keabadian dia.
aku berusaha mengingat lagi. dulu aku sangat kuper, bahkan menjelaskan tentang cintapun aku tak mampu.
aku selalu mengakhiri kelasku dengan menunduk untuk menuju ke bawah tangga sebelum aku kayuh sepeda ringkih nan bersuara berisik.
kelas aku berdekatan dengan dia.
aku melihat senyumnya sesekali hingga aku menghafalkannya.
balutan seragam yang polos dan pas di badan dia menjadi bombardir buat aku untuk menyimpan pertanyaan besar "siapa dia?"
kupandangi saat istirahat dia berdiri di depan pintu tepat sambil bersenda gurau dengan temannya.
sedikit berbeda saat pulang tiba, dia membawa tas hitam eiger nya di tangan kanan dan berharap menjadi antrian terakhir saat pulang.
dalam hati aku selalu berkata, "sungguh indahnya dia Tuhan, pantas kiranya jika dia mendapatkan orang yang hebat dan indah pula seperti dirinya"
saat upacara datang aku teringat dia menjadi buronan dan langganan nominasi murid yg terlambat. dan aku pun memperhatikannya. hingga satu taun lamanya aku selalu mencuri pandang terhadap sosoknya.
aku pun akhirnya mengerti namanya, mengerti darimana dia dan bagaimana dia, walo hanya berusaha mengerti tanpa ada bantuan orang lain.
aku perna sesekali mengirim surat kecil di kolong bangku dia, sungguh ironis jika mengingatkannya lagi, namun sayang surat itu tak pernah ada balasan., karena aku hanya menjadi pengagum tanpa sayap.
ingin rasanya mengenalmu. mengenal namamu dari suara indahmu, menatap parasmu tanpa beban,
Tuhan, aku sangaaaaaaaaaaaaaatttt mengaguminya.
akhirnya berjalanlah semester dua, aku menjadi sangat aktif di sekolah itu, aku pun tak sesekali saja menjadi delegasi dalam perlombaan akademik. dan konsekuensinya kelas tambahan pun selalu diadakan.
aaahh aku pulang sore :( lalu hari pertama itu aku sengaja tak konsentrasi, aku mengintip dari celah jendela, ternyata ada dia, dia yang berkaos putung dengan bermain bola asal afrika ini.
dalam hati menjerit " dia lagi, selalu ada dia di kehidupanku saat ini" hingga akhirnya saat aku pulang aku pun selalu menunduk untuk melewati lapangan basket itu.
sungguh menggelikan dengan permainan cinta tersembunyiku ini Tuhan..
SIAM Square - Bangkok - Thailand
wuuiiinggg, bis kota menuju ke Surkumvit pun sudah datang
dan lalu aku bebas dari lamunanku. :'))
0 komentar:
Posting Komentar